Autoclave


Autoclave


Autoclave merupakan alat serupa tangki minyak yang dapat diisi dengan uap. Media yang akan disterilkan ditempatkan dalam autoclave selama 15–20 menit, hal ini tergantung kepada sedikit banyaknya barang yang akan disterilkan. Media yang akan disterilkan itu lebih baik ditempatkan dalam beberapa botol yang kecil daripada dikumpul dalam satu botol yang besar. Setelah pintu autoclave ditutup rapat, barulah kran pada pipa uap dibuka dan temperatur akan terus- menerus naik. Biasanya autoclave sudah diatur sedemikian rupa, sehingga pada suhu 121 0C akan ada tekanan sebesar 15 lbs (pounds) per inch persegi yang berarti 1 atmosfer per 1 cm2 . Perhitungan waktu 15 atau 20 menit itu dimulai sejak termometer pada autoclave menunjuk 121 0C. Setelah cukup waktu maka kran uap ditutup dan dengan demikian akan terlihat bahwa suhu mulai turun sedikit demi sedikit, demikian pula manometer.

Autoclave tidak boleh dibuka secara tiba-tiba. Jika dilakukan demikian, maka isi botol yang ada di dalam autoclave akan meluap. Sangat disarankan menunggu sampai manometer menunjukkan 0 (nol), barulah autoclave dibuka. Pendinginan dilakukan sedikit demi sediki . Jika medium mengandung vitamin, gelatin atau jenis gula, maka setelah dilakukan sterilisasi dalam autoclave, medium tersebut harus segera didinginkan setelah dikeluarkan dari autoclave. Hal ini dilakukan untuk menghindarkan terurainya zat- zat tersebut. Medium yang sudah steril dapat disimpan dalam lemari es.

Cara Penggunaan autoclave model lain:

1) Sebelum melakukan sterilisasi cek terlebih dahulu banyaknya air dalam autoclave. Jika air kurang dari batas yang ditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas tersebut. Gunakan air hasil destilasi untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat.

2) Masukkan peralatan dan bahan. Jika mensterilisasi botol bertutup ulir, maka tutup harus dikendorkan.

3) Tutup autoclave dengan rapat lalu kencangkan baut pengaman agar tidak ada uap yang keluar dari bibir autoclave. Klep pengaman jangan dikencangkan terlebih dahulu.

4) Nyalakan autoclave, diatur timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121oC.

5) Tunggu sampai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoclave dan terdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15 menit dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm.

6) Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen turun hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preisure gauge menunjuk ke angka nol). Kemudian klepklep pengaman dibuka dan keluarkan isi autoclave dengan hati-hati.


Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding dengan udara panas. Biasanya untuk mensterilkan media digunakan suhu 1210C dan tekanan 15 lb/in2 (SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit. alasan digunakan suhu 1210C atau 249,8 0F adalah karena air mendidih pada suhu tersebut jika digunakan tekanan 15 psi. Untuk tekanan 0 psi pada ketinggian di permukaan laut (sea level) air mendidih pada suhu 1000C, sedangkan untuk autoclave yang diletakkan di ketinggian sama, menggunakan tekanan 15 psi maka air akan mendididh pada suhu 1210C. Kejadian ini hanya berlaku untuk sea level, jika dilaboratorium terletak pada ketinggian tertentu, maka pengaturan tekanan perlu disetting ulang. Misalnya autoclave diletakkan pada ketinggian 2700 kaki dpl, maka tekanan dinaikkan menjadi 20 psi supaya tercapai suhu 1210C untuk mendidihkan air. Semua bentuk kehidupan akan mati jika dididihkan pada suhu 1210C dan tekanan 15 psi selama 15 menit.

Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoclave lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang mengisi autoclave. Setelah semua udara dalam autoclave diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoclave naik.

Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai, maka proses sterilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoclave tidak boleh dibuka sebelum tekanan mencapai 0 psi.

Untuk mendeteksi bahwa autoclave bekerja dengan sempurna dapat digunakan mikroba pengguji yang bersifat termofilik dan memiliki endospora yaitu Bacillus stearothermophillus, lazimnya mikroba ini tersedia secara komersial dalam bentuk spore strip. Kertas spore strip ini dimasukkan dalam autoclave dan disterilkan. Setelah proses sterilisasi lalu ditumbuhkan pada media. Jika media tetap bening maka menunjukkan autoclave telah bekerja dengan baik.

Beberapa media atau bahan yang tidak disterilkan dengan autoclave adalah

a) Bahan tidak tahan panas seperti serum, vitamin, antibiotik dan enzim

b) Pelarut organik, seperti fenol

c) Buffer dengan kandungan detergen, seperti SDS

Untuk mencegah terjadinya presipitasi, pencoklatan (media menjadi coklat) dan hancurnya substrat dapat dilakukan pencegahan sebagai berikut :

a) Glukosa disterilkan terpisah dengan asam amino (peptone) atau senyawa fosfat

b) Senyawa fosfat disterilkan terpisah dengan asam amino (peptone) atau senyawa garam mineral lain.

c) Senyawa garam mineral disterilkan terpisah dengan agar

d) Media yang memiliki pH > 7,5 jangan disterilkan dengan autoclave

e) Jangan mensterilisasi larutan agar dengan pH < 6,0

Erlenmeyer hanya boleh diisi media maksimum ¾ dari total volumenya, sisa ruang dibiarkan kosong. Jika mensterilkan media 1 liter yang ditampung pada erlenmeyer 2 liter maka sterilisasi diatur dengan waktu 30 menit.

Sterilisasi


Sterilisasi

a. Prinsip dan tujuan Sterilisasi





Apakah anda mengeahui prinsip dan tujuan sterilisasi?


Sterilisasi dalam mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau dalam suatu benda. Ketika anda pertama kalinya melakukan pemindahan biakan secara aseptik, sesungguhnya anda telah menggunakan salah satu cara sterilisasi , yaitu pembakaran. Namun kebanyakan peralatan dan media yang umum dipakai di dalam pekerjaan mikrobiologis akan menjadi rusak bila dibakar.


Tujuan dari sterilisasi adalah untuk mematikan semua organisme hingga sporanya pada suatu obyek, agar dalam penggunaan benda atau obyek pada kegiatan selanjutnya tidak terjadi kontaminasi atau kegagalan. Suatu tindakan untuk membunuh kuman patogen dan apatogen beserta sporanya pada peralatan perawatan dan kedokteran dengan cara merebus, stoom, panas tinggi atau menggunakan bahan kimia.




b. Metode Sterilisasi





Saat ini informasi yang diperoleh dari bidang mikrobiologi memberikan sumbangan yang sangat besar, khususnya dalam mengawasi penyakit menular. Selain itu, mikroorganisme telah digunakan untuk mempelajari berbagai proses biokimia yang diketahui terjadi pula pada bentuk kehidupan yang lebih tinggi. Banyak fakta tentang metabolisme manusia yang diketahui sekarang mula-mula diketahui terjadi pada mikroorganisme. Demikian pula dengan teknologi yang sekarang sedang popular, misal rekayasa genetik yang tidak lain merupakan perkembangan genetika molekuler yang menjelaskan bagaimana gen mengatur aktivitas sel. Semua ini berasal dari studi tentang mikroorganisme. Jadi bidang mikrobiologi tidak hanya studi tentang penyebab penyakit tetapi merupakan studi tentang semua aktivitas hayati mikroorganisme.


Mikroorganisme banyak dipelajari di laboratorium untuk banyak tujuan. Derajat perinciannya untuk mempelajari itu tergantung kepada maksud pemeriksaan laboratorium tersebut. Tersedianya pula teknik untuk menentukan ukuran, bentuk, dan struktur sel-sel individu serta beberapa prosedur untuk menumbuhkan (membiakkan) mikroorganisme di laboratorium.


Pada bahasan berikut ini dititikberatkan pada metode/prosedur untuk membebaskan suatu bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan atau yang biasanya dikenal dengan istilah sterilisasi. Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada suatu benda. Proses sterilisasi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu penggunaan panas (pemijaran dan udara panas); penyaringan; dan penggunaan bahan kimia seperti etilena oksida, asam perasetat, formaldehida dan glutaraldehida alkalin (Hadioetomo, 1993). Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi. Berikut penjelasan akan masing-masing cara:
1) Sterilisai Secara Mekanik (filtrasi)





Sterilisasi secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik.


Jika terdapat beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan atau penguraian, maka sterlisasi yang digunakan adalah dengan cara mekanik, misalnya dengan saringan. Dalam mikrobiologi, penyaringan secara fisik paling banyak digunakan adalah dalam penggunaan filter khusus misalntya filter berkefeld, filter chamberlan, dan filter seitz. Jenis filter yang dipakai tergantung pada tujuan penyaringan dan benda yang akan disaring.


Penyaringan dapat dilakukan dengan mengalirkan gas atau cairan melalui suatu bahan penyaring yang memilki pori-pori cukup kecil untuk menahan mikroorganisme dengan ukuran tertentu. Saringan akan tercemar sedangkan cairan atau gas yang melaluinya akan steril. Alat saring tertentu juga mempergunakan bahan yang dapat mengabsorbsi mikroorganisme. Saringan yang umum dipakai tidak dapat menahan virus. Oleh karena itu, sehabis penyaringan medium masih harus dipanaskan dalam autoclave. Penyaringan dilakukan untuk mensterilkan substansi yang peka tehadap panas seperti serum, enzim, toksin kuman, ekstrak sel dan lain-lain.


• Menyaring cairan


Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai filter seperti saringan seitz, yang menggunakan saringan asbestos sebagai alat penyaringannya; saringan berkefeld yang mempergunakan filter yang terbuat dari tanah diatom; saringan chamberland yang mempergunakan filter yang terbuat dari porselen; dan fritted glass filter yang mempergunakan filter yang terbuat dari serbuk gelas. Saringan asbes lebih mudah dan lebih murah daripada saringan porselen. Saringan asbes dapat dibuang setelah dipakai, sedangkan saringan porselen terlalu mahal bila dibuang, tetapi terlalu sulit untuk dibersihkan.


• Menyaring udara


Untuk menjaga suatu alat yang sudah steril agar tidak tercemar oleh mikroba atau untuk menjaga agar suatu biakan kuman tidak tercemar oleh kuman yang lain, maka alat-alat tersebut harus ditutup denagn kapas, karena kapas mudah ditembus udara tetapi dapat menahan mikroorganisme. Harus dijaga agar kapas tidak menjadi basah, oleh karena kapas yang basah memungkinkan kuman menembus ke dalam. Untuk mencegah pencemaran oleh kuman-kuman udara pada waktu menuang pembenihan, dapat dipergunakan suatu alat yang disebut laminar flow bench dimana udara yang masuk ke dalamnya disaring terlebih dahulu dengan suatu saringan khusus. Saringan ini ada batas waktu pemakaiannya dan harus diganti dengan yang baru apabila sudah tidak berfungsi lagi.




2) Sterilisasi Secara Fisik





Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran.


• Pemanasan


- Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L dan lain-lain.


- Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 160-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dan lain-lain.


- Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat menggunakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.


- Uap air panas bertekanan: menggunakan autoclave.






• Penyinaran dengan UV


Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya untuk membunuh mikroba yang menempel pada


permukaan interior Safety Cabinet dengan disinari lampu UV




3) Sterilisaisi Secara Kimiawi





Biasanya sterilisasi secara kimiawi menggunakan senyawa desinfektan antara lain alkohol. Antiseptik kimia biasanya dipergunakan dan dibiarkan menguap seperti halnya alkohol. Umumnya isopropil alkohol 70-90% adalah yang termurah namun merupakan antiseptik yang sangat efisien dan efektif. Penambahan yodium pada alkohol akan meningkatkan daya disinfeksinya. Dengan menggunakan iodium, isopropil tidak efektif terhadap spora. Solusi terbaik untuk membunuh spora adalah campuran formaldehid dengan alkohol, tetapi solusi ini terlalu toksik untuk dipakai sebagai antiseptik.


Pemilihan antiseptik terutama tergantung pada kebutuhan dari tujuan tertentu serta efek yang dikehendaki. Perlu juga diperhatikan bahwa beberapa senyawa bersifat iritatif dan kepekaan kulit sangat bervariasi. Zat-zat kimia yang dapat dipakai untuk sterilisasi antara lain yaitu halogen (senyawa klorin, iodium), alkohol, fenol, hidrogen feroksida, zat warna ungu kristal, derivat akridin, rosanalin, detergen, logam berat (hg, Ag, As, Zn), aldehida dan lain-lain




c. Berbagai Prosedur Umum Kerja dalam Mikrobiologi yang Membutuhkan Teknik






1) Desinfeksi Meja Kerja/Sterilisasi Meja Kerja





• Singkirkan semua barang yang tidak diperlukan dari meja dan ruang kerja


• b)Semprot meja kerja denga alkohol 70 % beberapa kali hingga merata


• Semprotkan juga alkohol pada telapak tangan


• Letakkan alat dan bahan-bahan yang diperlukan pada meja kerja dan semprotkan kembali alkohol pada semua peralatan.


• Diamkan beberapa saat dan semprotkan kembali alkohol ke seluruh permukaan tangan ketika hendak mulai bekerja.


• Letakkan pembakar spiritus lalu biarkan.

2) Memindahkan biakan secara aseptis








• Siapkan alat dan bahan seperti spirirtus, jarum inokulum (jarum ose), rak tabung dan dua buah tabung tertutup yang berisi biakan bakteri/virus.


• Bakar ujung hingga pangkal jarum inokulum dengan pembakar spirirtus.


• Buka tutup kedua tabung dan bakar mulut kedua buah tabung tersebut dengan pembakar spiritus agar kontaminan mati.


• Ambil satu ulasan pada tabung pertama dengan jarum inokulum kemudian masukkan jarum tadi pada tabung kedua dengan teknik spread zig-zag.


• Bakar kembali mulut tabung agar kontaminasi pada proses transfer mati.


• Tutup kembali tabung tersebut dan bakar ujung jarum inokulum untuk membunuh sisa bakteri yang ada.




3) Memindahkan biakan dari cawan





• Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.


• Bakar mulut cawan bagian tepi dengan memutarnya di atas api, serta pijarkan jarum inokulum dan dinginkan.


• Buka mulut cawan yang berisi biakan koloni dan ambil koloni tunggalnya dengan menempelkan jarum inokulum loop.


• Tanamkan kembali koloni yang sudah diambil tadi pada media yang baru dengan teknik spread kontinyu.


• Panaskan kembali mulut cawan dan tutup rapat serta panaskan jarum inokulum yang telah digunakan.




4) Memindahkan cairan dengan pipet





• Siapkan alat dan bahan-bahan yang akan digunakan.


• Lepaskan bungkus pipet dan panaskan ujung pipet pada pembakar spiritus (Usahakan daerah ujung pipet berdekatan dengan api).


• Ambil dua buah tabung dan buka tutupnya untuk dipanaskan bagian ujung mulut tabung.


• Pipet cairan pada tabung pertama dengan menekan tombol S pada filler dengan volume tertentu. Kemudian pindahkan ke tabung lainnya dan keluarkan cairan tersebut dengan menekan E pada filler.


• Bakar kedua mulut tabung tadi dan tutup kembali dengan rapat.




5) Menuangkan Media





• Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.


• Panaskan mulut erlenmeyer yang berisi media pertumbuhan mikroorganisme.


• Tuangkan media dalam erlemneyer ke cawan petri yang berisi biakan murni.





• Ratakan dengan menggoyangkan cawan.









Autoclave







Autoclave merupakan alat serupa tangki minyak yang dapat diisi dengan uap. Media yang akan disterilkan ditempatkan dalam autoclave selama 15–20 menit, hal ini tergantung kepada sedikit banyaknya barang yang akan disterilkan. Media yang akan disterilkan itu lebih baik ditempatkan dalam beberapa botol yang kecil daripada dikumpul dalam satu botol yang besar. Setelah pintu autoclave ditutup rapat, barulah kran pada pipa uap dibuka dan temperatur akan terus- menerus naik. Biasanya autoclave sudah diatur sedemikian rupa, sehingga pada suhu 121 0C akan ada tekanan sebesar 15 lbs (pounds) per inch persegi yang berarti 1 atmosfer per 1 cm2 . Perhitungan waktu 15 atau 20 menit itu dimulai sejak termometer pada autoclave menunjuk 121 0C. Setelah cukup waktu maka kran uap ditutup dan dengan demikian akan terlihat bahwa suhu mulai turun sedikit demi sedikit, demikian pula manometer.




Autoclave tidak boleh dibuka secara tiba-tiba. Jika dilakukan demikian, maka isi botol yang ada di dalam autoclave akan meluap. Sangat disarankan menunggu sampai manometer menunjukkan 0 (nol), barulah autoclave dibuka. Pendinginan dilakukan sedikit demi sediki . Jika medium mengandung vitamin, gelatin atau jenis gula, maka setelah dilakukan sterilisasi dalam autoclave, medium tersebut harus segera didinginkan setelah dikeluarkan dari autoclave. Hal ini dilakukan untuk menghindarkan terurainya zat- zat tersebut. Medium yang sudah steril dapat disimpan dalam lemari es.



Cara Penggunaan autoclave model lain:

1) Sebelum melakukan sterilisasi cek terlebih dahulu banyaknya air dalam autoclave. Jika air kurang dari batas yang ditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas tersebut. Gunakan air hasil destilasi untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat.




2) Masukkan peralatan dan bahan. Jika mensterilisasi botol bertutup ulir, maka tutup harus dikendorkan.




3) Tutup autoclave dengan rapat lalu kencangkan baut pengaman agar tidak ada uap yang keluar dari bibir autoclave. Klep pengaman jangan dikencangkan terlebih dahulu.




4) Nyalakan autoclave, diatur timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121oC.




5) Tunggu sampai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoclave dan terdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15 menit dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm.




6) Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen turun hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preisure gauge menunjuk ke angka nol). Kemudian klepklep pengaman dibuka dan keluarkan isi autoclave dengan hati-hati.







Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding dengan udara panas. Biasanya untuk mensterilkan media digunakan suhu 1210C dan tekanan 15 lb/in2 (SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit. alasan digunakan suhu 1210C atau 249,8 0F adalah karena air mendidih pada suhu tersebut jika digunakan tekanan 15 psi. Untuk tekanan 0 psi pada ketinggian di permukaan laut (sea level) air mendidih pada suhu 1000C, sedangkan untuk autoclave yang diletakkan di ketinggian sama, menggunakan tekanan 15 psi maka air akan mendididh pada suhu 1210C. Kejadian ini hanya berlaku untuk sea level, jika dilaboratorium terletak pada ketinggian tertentu, maka pengaturan tekanan perlu disetting ulang. Misalnya autoclave diletakkan pada ketinggian 2700 kaki dpl, maka tekanan dinaikkan menjadi 20 psi supaya tercapai suhu 1210C untuk mendidihkan air. Semua bentuk kehidupan akan mati jika dididihkan pada suhu 1210C dan tekanan 15 psi selama 15 menit.




Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoclave lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang mengisi autoclave. Setelah semua udara dalam autoclave diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoclave naik.




Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai, maka proses sterilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoclave tidak boleh dibuka sebelum tekanan mencapai 0 psi.




Untuk mendeteksi bahwa autoclave bekerja dengan sempurna dapat digunakan mikroba pengguji yang bersifat termofilik dan memiliki endospora yaitu Bacillus stearothermophillus, lazimnya mikroba ini tersedia secara komersial dalam bentuk spore strip. Kertas spore strip ini dimasukkan dalam autoclave dan disterilkan. Setelah proses sterilisasi lalu ditumbuhkan pada media. Jika media tetap bening maka menunjukkan autoclave telah bekerja dengan baik.




Beberapa media atau bahan yang tidak disterilkan dengan autoclave adalah




a) Bahan tidak tahan panas seperti serum, vitamin, antibiotik dan enzim




b) Pelarut organik, seperti fenol




c) Buffer dengan kandungan detergen, seperti SDS




Untuk mencegah terjadinya presipitasi, pencoklatan (media menjadi coklat) dan hancurnya substrat dapat dilakukan pencegahan sebagai berikut :




a) Glukosa disterilkan terpisah dengan asam amino (peptone) atau senyawa fosfat




b) Senyawa fosfat disterilkan terpisah dengan asam amino (peptone) atau senyawa garam mineral lain.




c) Senyawa garam mineral disterilkan terpisah dengan agar




d) Media yang memiliki pH > 7,5 jangan disterilkan dengan autoclave




e) Jangan mensterilisasi larutan agar dengan pH < 6,0




Erlenmeyer hanya boleh diisi media maksimum ¾ dari total volumenya, sisa ruang dibiarkan kosong. Jika mensterilkan media 1 liter yang ditampung pada erlenmeyer 2 liter maka sterilisasi diatur dengan waktu 30 menit.





d. Sterilisasi Alat- Alat Gelas


Gelas, botol, pipa, pipet, tabung reaksi yang sudah bersih tidak disterilkan di dalam autoclave, karena barang-barang tersebut akan tetap basah sehabis disterilisasi. Alat-alat dari gelas dimasukkan dalam oven kering selama 2-3 jam pada temperatur 1600C -1800C, hal ini tergantung banyak sedikitnya muatan yang dimasukkan ke dalam oven. Kapas masih dapat bertahan dalam oven kering selama waktu dan pada temperatur tersebut. Alat - alat yang belum bersih dan belum kering tidak boleh dimasukkan dalam oven kering. Pensterilan alat- alat dapat pula dilakukan dengan gas etilen oksida. Hal ini harus dikerjakan dengan hati-hati, karena ada bahaya letusan .

























1) Sterilisasi dengan penyaringan (filtrasi)


Sterilisasi dengan penyaringan dilakukan untuk mensterilisasi cairan yang mudah rusak jika terkena panas atau mudah menguap (volatile). Cairan yang disterilisasi dilewatkan ke suatu saringan (ditekan dengan gaya sentrifugasi atau pompa vakum) yang berpori dengan diameter yang cukup kecil untuk menyaring bakteri. Virus tidak akan tersaring dengan metode ini.


2) Tyndalisasi


Konsep kerja metode ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air dan tidak tahan tekanan atau suhu tinggi lebih tepat disterilkan dengan metode ini. Misalnya susu yang disterilkan dengan suhu tinggi akan mengalami koagulasi dan bahan yang berpati disterilkan pada suhu bertekanan pada kondisi pH asam akan terhidrolisis.






Cara kerja :


• Bahan dimasukkan ke dalam erlenmeyer atau botol dan ditutup rapat dengan sumbat atau aluminium foil.


• Erlenmeyer/botol lalu dimasukkan kedalam alat sterilisasi (alat standar menggunakan Arnold Steam Sterilizen atau dandang).


• Nyalakan sumber panas dan tunggu hingga termometer menunjukkan suhu 1000C kemudian hitung waktu mundur hingga 30 menit (uap panas yang terbentuk akan mematikan mikroba).


• Setelah selesai alat sterilisasi dimatikan dan bahan yang steril dikeluarkan.


• Setelah 24 jam, bahan tersebut disterilkan lagi dengan cara yang sama, sedang waktu ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan spora atau sel vegetatif yang belum mati untuk tumbuh sehingga mudah dibunuh.






3) Sterilisasi dengan udara panas (dry heat sterilization)


Sterilisasi dengan metode ini biasanya digunakan untuk peralatan gelas seperti cawan petri, pipet ukur dan labu erlenmyer. Alat gelas yang disterilisasi dengan udara panas tidak akan timbul kondensasi sehingga tidak ada tetes air (embun) dalam alat gelas. Metode yang dilakukan adalah sebagai berikut:


• Bungkus alat-alat gelas dengan kertas payung atau aluminium foil  Atur pengatur suhu oven menjadi 1800C dan alat disterilkan selama 2-3 jam.






a) Prinsip kerja Biological Saferty Cabinet (BSC)


Biological Safety Cabinet merupakan kabinet kerja yang disterilkan untuk kerja mikrobiologi. BSC memiliki suatu pengatur aliran udara yang menciptakan aliran udara kotor (dimungkinkan ada kontaminan) untuk disaring dan diresirkulasi melalui filter. BSC juga disebut biosafety hood, dan juga dikenal dengan Laminar flowhood atau Class II vertical flow cabinet yang menyediakan alat filtrasi dan aliran udara yang bersirkulasi didalam ruang kerja. Aliran udara diatur untuk menghambat udara luar masuk dan udara di dalam keluar, untuk mencegah kontaminasi dari luar dan pencemaran bakteri dari ruang BSC. Udara yang keluar disaring melewati penyaring sehingga sel-sel yang berbahaya tidak lepas keluar ke ruangan lain.






Berbagai kelas Biological Safety Cabinet.


BSC yang dimiliki Lab mikrobiologi merupakan BSC kelas II yang memiliki konfigurasi udara. Udara yang berasal dari luar kabinet akan langsung terserap masuk ke saluran bawah yang bergabung dengan udara dari meja kerja yang dimungkinkan mengandung bakteri yang digunakan untuk kerja. Udara dari meja kerja disedot dari depan meja kerja. Kemudian udara kotor ini disaring oleh penyaring HEPA dan disirkulasikan keluar kabinet atau kembali lagi ke meja kerja sebagai udara bersih.














Jenis peralatan yang dapat disterilkan


• Peralatan yang terbuat dari logam, misalnya pinset, gunting, speculum dan lain-lain.


• Peralatan yang terbuat dari kaca, misalnya semprit (spuit), tabung kimia dan lain-lain.


• Peralatan yang terbuat dari karet, misalnya, kateter, sarung tangan, pipa penduga lambung, drain dan lain-lain.


• Peralatan yang terbuat dari ebonit, misalnya kanule rectum, kanule trachea dan lain-lain.


• Peralatan yang terbuat dari email, misalnya bengkok


(nierbekken), baskom dan lain-lain.


• Peralatan yang terbuat dari porselin, misalnya mangkok, cangkir, piring dan lain-lain.


• Peralatan yang terbuat dari plastik, misalnya slang infus dan lain-lain.


• Peralatan yang terbuat dari tenunan, misalnya kain kasa, tampon, doek operasi, baju, sprei, sarung bantal dan lain-lain.






Pelaksanaan:


• Sterilisasi dengan cara rebus: mensterikan peralatan dengan cara merebus di dalam air sampai mendidih (1000C) dan ditunggu antara 15 sampai 20 menit. Misalnya peralatan dari logam, kaca dan karet.


• Sterilisasi dengan cara stoom: mensterikan peralatan dengan uap panas didalam autoclave dengan waktu, suhu dan tekanan tertentu. Misalnya alat tenun, obat-obatan dan lain-lain.


• Sterilisasi dengan cara panas kering: mensterilkan peralatan dengan oven dengan uap panas tinggi. Misalnya peralatan logam yang tajam, peralatan dari kaca dan obat tertentu.


• Sterilisasi dengan cara menggunakan bahan kimia: Mensterilkan peralatan dengan menggunakan bahan kimia seperti alkohol, sublimat, uap formalin, khususnya untuk peralatan yang cepat rusak bila terkena panas, misalnya sarung tangan, kateter dan lain-lain.






Yang harus menjadi perhatian dalam melakukan sterilisasi adalah :


• Sterilisator harus dalam keadaan siap pakai.  Peralatan harus bersih dan masih berfungsi.


• Peralatan yang dibungkus harus diberi label dengan jelas mencantumkan : nama, jenis peralatan, tanggal dan jam disterilkan.


• Menyusun peralatan di dalam sterilisator harus sedemikian rupa, sehingga seluruh bagian dapat disterilkan.


• Waktu yang diperlukan untuk mensterilkan setiap jenis peralatan harus tepat (dihitung sejak peralatan disterilkan).


• Dilarang memasukkan atau menambahkan peralatan lain ke dalam sterilisator, sebelum waktu untuk mensterilkan selesai.


• Memindahkan peralatan yang sudah steril ke tempatnya harus dengan korentang steril.


• Untuk mendinginkan peralatan steril dilarang membuka bungkus maupun tutupnya.


• Bila peralatan yang baru disterilkan terbuka, peralatan tersebut harus disterilkan kembali.

Mikroskop

Mikroskop

Mikroskop (bahasa Yunani: micros = kecil dan scopein = melihat) adalah sebuah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk dilihat secara kasat mata. Mikroskop merupakan alat bantu yang dapat ditemukan hampir diseluruh laboratorium untuk dapat mengamati organisme berukuran kecil (mikroskopis). Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini disebut mikroskopi, dan katamikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah terlihat oleh mata.

mikroskop cahaya dan bagian-bagiannya
nikroskop elektron dan bagian-bagiannya


Table 1. Bagian-Bagian Mikroskop dan Fungsinya
BAGIAN
MIKROSKOP OPTIK
BAGIAN
MIKROSKOP MEKANIK
FUNGSI
Lensa okuler

Lensa yang berhubungan dengan mata langsung, pengintai atau pengamat yang berfungsi untuk memperbesar bayangan objek. Ada 4 buah lensa,yaitu dengan perbesaran
5 x, 10 x, 12,5 x dan 15 x
Lensa objektif

Lensa yang berada di dekat objek/benda berfungsi untuk memperbesar bayangan benda. Susunan lensa biasanya terdiri atas 3 atau 4 buah dengan perbesaran masing-masing  10 x, 40 x, 45 x dan 100 x
Diafragma

Untuk mengatur intensitas cahaya yang masuk ke lensa objektif

BAGIAN
MIKROSKOP OPTIK
BAGIAN
MIKROSKOP MEKANIK
FUNGSI
Cermin ada dua, yaitu cermin datar dan cekung

Cermin berfungsi untuk mengarahkan cahaya pada objek. Cermin datar digunakan ketika cahaya yang dibutuhkan terpenuhi, sedangkan cermin cekung digunakan untuk mengumpulkan cahaya

Tabung
Mikroskop
(Tubus)
Untuk menghubungkan lensa okuler dan lensa objektif

Meja sediaan
(meja preparat)
Sebagai tempat meletakkan objek atau preparat yang diamati. Bagian tengah meja terdapat lubang untuk melewatkan sinar.

Klip (penjepit objek)
Untuk menjepit preparat agar kedudukannya tidak bergeser ketika sedang diamati.

Lengan mikroskop
Untuk pegangan pada saat memindahkan atau membawa mikroskop

Pemutar halus (mikrometer)
Untuk menggerakkan
(menjauhkan/mendekatkan) lensa objektif terhadap preparat secara pelan/halus

Pemutar kasar (makrometer)
Untuk menggerakkan tubus ke atas dan ke bawah secara cepat
Kondensor

Untuk mengumpulkan cahaya yang masuk, alat ini dapat diputar dan dinaik-turunkan

Sekrup (engsel inklinasi)
Untuk mengatur sudut atau tegaknya mikroskop

Kaki mikroskop
Untuk menyangga atau menopang mikroskop

Cara menggunakan mikroskop
Cara menggunakan mikroskop bagian 1

Cara menggunakan mikroskop bagian 2

Keterangan  Gambar Menggunakan Mikroskop :
a.         Ambil mikroskop dari kotak penyimpanannya,  tangan kanan memegang bagian lengan mikroskop dan tangan kiri memegang alas mikroskop. Kemudian mikroskop diletakkan di tempat yang datar, kering, dan memiliki cahaya yang cukup.
b.         Pasang lensa okuler dengan lensa yang memiliki ukuran perbesaran sedang kemudian putar revolver sehingga lensa objektif dengan perbesaran lemah berada pada posisi satu poros dengan lensa okuler yang ditandai bunyi ”klik”pada revolver.
c.          Cahaya tampak terang berbentuk bulat (lapang pandang) seperti yang terlihat  pada gambar, dapat diperoleh dengan cara berikut:
     Mengatur diafragma untuk mendapatkan cahaya yang terang
     Mengatur cermin untuk mendapatkan cahaya yang akan dipantulkan ke  diafragma sesuai kondisi ruangan. Pengaturan dilakukan dengan cara melihat melalui lensa okuler (apakah lapang pandang sudah terang/jelas)
Catatan: beberapa mikroskop telah dilengkapi lampu sehingga tidak perlu mencari cahaya, cukup mengatur posisi diafragma yang sesuai dengan kebutuhan cahaya terang dan lurus dengan lensa okuler dan objektif
d.         Siapkan preparat yang akan diamati, lalu letakkan di meja. Atur agar bagian yang akan diamati tepat di tengah lubang meja preparat kemudian, jepit preparat dengan penjepit objek.
e.         Atur fokus untuk menperjelas gambar objek dengan cara:
        Putar pemutar kasar (makrometer) secara perlahan sambil dilihat dari lensa okuler. Pemutaran dengan makrometer dilakukan sampai lensa objektif berada pada posisi terdekat dengan meja preparat.
Catatan: Jangan memutar makrometer secara paksa karena akan menekan preparat dan menyebabkan peparat rusak/pecah/patah.
        Lanjutkan dengan memutar pemutar halus (mikrometer) untuk memperjelas bayangan objek.
        Jika letak preparat belum tepat, kaca objek dapat digeser dengan lengan yang berhubungan dengan penjepit. Jika tidak tersedia, preparat dapat digeser secara langsung.
f.           Setelah preparat terlihat, untuk memperoleh perbesaran kuat gantilah lensa objektif dengan ukuran dari 10 x, 40 x atau 100 x dengan cara memutar revolver sampai berbunyi klik. Usahakan agar posisi preparat tidak bergeser. Jika hal ini terjadi, anda harus mengulangi dari awal.
g.         Setelah selesai menggunakan mikroskop, bersihkan mikroskop dan simpan pada tempat penyimpanan. 

jamur (fungi/cendawan) dan khamir

jamur (fungi/cendawan) dan khamir 

Fungi dalam bahasa Indonesia disebut cendawan. Ciri-ciri cendawan secara umum ialah makhluk hidup eukariotik, heterotrofik (tidak memiliki klorofil), memperoleh nutrisi melalui absorbsi dan energi simpanannya berupa glikogen. 

Cendawan mempunyai struktur somatik bersel satu atau banyak (multi seluler), kebanyakan berupa hifa dengan komponen utama dinding selnya ialah zat kitin, serta berkembang biak secara seksual dan aseksual dengan membentuk spora. 

Jamur (mushroom) ialah cendawan yang tubuh buahnya berukuran besar dan sebaliknya kapang (moulds) ialah cendawan yang berukuran renik. Khamir (yeast) ialah cendawan bersel tunggal. Cendawan bukanlah tumbuhan atau hewan. Cendawan tidak memiliki klorofil seperti tumbuhan sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis dan menyimpan karbohidratnya dalam bentuk glikogen bukan pati seperti pada tumbuhan. Cendawan tidak menelan dan mengunyah makanan seperti pada hewan, melainkan merombak makanannya di luar tubuh secara enzimatik dan diserap melalui hifa. 

Cendawan termasuk makhluk hidup eukariotik karena sudah memiliki inti sel yang terbungkus membran. Hidupnya bersifat heterotrof dengan menggunakan bahan organik yang sudah tersedia. Bahan organik yang digunakan dapat berupa bahan organik mati (saprotrof) atau bahan organik hidup (simbiosis). 

Cendawan yang melakukan simbioisis antagonistik dapat menyebabkan penyakit parasitik yang merugikan makhluk hidup inangnya. Sebaliknya, cendawan yang membentuk simbiosis mutualistik menguntungkan baik inang maupun cendawannya itu sendiri. Inang untuk cendawan ialah tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme termasuk cendawan. 

Struktur somatik cendawan multi seluler tersusun atas benang-benang yang disebut hifa. Hifa merupakan tabung-tabung kecil berisi sitoplasma dan nukleus. Dinding sel hifa umunya tersusun atas kitin. 

Kumpulan hifa akan membentuk jalinan yang disebut miselium. Beberapa jenis cendawan memiliki hifa   dengan sekat-sekat melintang yang dinamakan septa. Hifa yang memiliki sekat dinamakan hifa bersekat atau bersepta. Adapun hifa yang tidak memiliki sekat dinamakan asepta atau senositik Hifa senositik memiliki banyak inti. Pada cendawan yang hidup sebagai parasit terdapat hifa yang mengalami modifikasi menjadi haustoria. Haustoria adalah hifa yang berfungsi sebagai organ penyerap makanan atau menempel pada inang. Selain menyerap makanan, hifa dapat berkembang membentuk struktur reproduksi. 

Cendawan dapat berproduksi secara aseksual dan seksual dengan membentuk spora. Terdapat bermacam-macam spora aseksual yang dibentuk oleh cendawan, antara lain ialah konidium (jamak: konidia), sporangiospora (spora) dan klamidospora. 

Pembentukan spora seksual melibatkan proses perkawinan, kariogami dan meiosis. Ciri-ciri dari spora  seksual digunakan dalam pengelompokan cendawan ke tingkat filum. 

Berdasarkan perkembangan sistematika cendawan terkini yang menggunakan ciri-ciri seperti evolusi, ultrastruktur, biokimia dan molekuler untuk kriteria pembentukan takson maka kingdom (dunia) fungi ditata ulang. Cendawan yang dahulunya menempati satu kingdom yaitu fungi sekarang terpisah menjadi 3 kingdom. Ketiga kingdom ini ialah Chromista, Protoctista dan Fungi. 

Kingdom chromista disebut cendawan semu atau pseudofungi, kingdom protoctista disebut cendawan   protozoa dan kingdom fungi disebut cendawan sejati atau eufungi. 

Berdasarkan ciri reproduksi sebagai pembeda utama, kingdom chromista atau cendawan semu dan kingdom fungi atau cendawan sejati dibagi dalam beberapa filum. Kingdom chromista terdiri dari 2 filum yaitu Hyphochytridiomycota dan Oomycota. Cendawan sejati terdiri atas 5 filum yaitu Chytridiomycota, Zygomycota, Ascomycota, Basidiomycota dan Deuteromycota. Penjelasan masing-masing adalah sebagai berikut: 

1) Kingdom Chromista (Cendawan semu) Filum Oomycota 

Oomycota atau cendawan air dikatakan sebagai cendawan yang memiliki telur. Oomycota merupakan cendawan yang tersusun atas hifa bercabang yang tidak bersekat. Polisakarida penyusun utama dinding selnya ialah selulosa, bukan kitin seperi pada cendawan sejati. 

Oomycota berproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual dilakukan dengan cara pembentukan zoospore berflagel 2 di dalam zoosporangium pada ujung hifa. Zoospora akan tumbuh membentuk hifa-hifa baru. Sementara itu, reproduksi seksual dilakukan dengan cara peleburan sel telur haploid dengan inti sel dari anteridium. Proses peleburan sel telur dan anteridium menghasilkan oospora yang diploid. Setelah mengalami masa dorman, oospora berkecambah membentuk zooosporangium yang menghasilkan zoospora diploid. Selanjutnya zoospora akan tumbuh  menjadi hifa baru yang diploid sebagai parasit pada tanaman karet, Phytophthora infestans menyebabkan penyakit karat putih pada tanaman kentang dan Phytophthora nicotinae menyerang tanaman tembakau. 

Anggota oomycota lainnya yang bersifat parasit pada tanaman ialah Plasmopara viticola menyebabkan penyakit pada tanaman anggur dan Phythium sebagai penyebab penyakit lapuk berbulu atau rebah semai. 

2) Kingdom Fungi (Cendawan sejati) 

Kelompok jamur (fungi), merupakan kelompok makhluk hidup yang memperoleh makanan dengan cara menguraikan sisa makhluk hidup lain. 

Tidak berklorofil, berspora, tidak mempunyai akar, batang, dan daun. Jamur hidupnya di tempat yang lembab, bersifat saprofit (organisme yang hidup dan makan dari bahan organik yang sudah mati atau yang sudah busuk) dan parasit (organisme yang hidup dan mengisap makanan dari organisme lain yang ditempelinya). Tubuh jamur terdiri atas benang-benang halus yang disebut hifa. Hifa saling bersambungan membentuk miselium. Pada umumnya, jamur berkembang biak dengan spora yang dihasilkan oleh sporangium. Contoh jamur: jamur roti, ragi tape, jamur tiram putih, dan jamur kayu.

Jamur dibagi menjadi 6 divisi, yaitu Myxomycotina (jamur lendir), Oomycotina, Zygomycotina, Ascomycotina, Basidiomycotina, dan Deuteromycotina. 
  • Filum Chytridiomycota 
Cendawan ini merupakan cendawan sejati yang paling sederhana dan sering disebut kitrid. Reproduksi aseksualnya dilakukan dengan cara membentuk zoospora berflagela tunggal berbentuk whiplash. Reproduksi seksual dilakukan dengan membentuk spora rehat. Filum ini merupakan nenek moyang dari cendawan sejati lainnya. Sebagian kitrid hidup di air tawar, air laut dan lingkungan yang
lembab. Salah satu kitrid yang bersifat parasit pada tumbuhan ialah genus Synchytrium. Synchytrium endobiotricum dapat menyebabkan penyakit pada tanaman kentang. 
  • Filum Zygomycota / Zygomycotiana 
Cendawan anggota filum Zygomycota banyak yang mempunyai nilai ekonomi penting. Cendawan ini ada yang digunakan untuk produksi makanan, industri asam organik dan bersifat parasitik pada tanaman. Zygomycota yang digunakan untuk produksi makanan dan umum dikenal ialah Rhizopus oryzae atau kapang tempe. Ciri-ciri R. oryzae secara umum, antara lain ialah hifa tidak bersekat (senositik), hidup sebagai saprotrof, yaitu dengan menguraikan senyawa organik. 

Reproduksi aseksual cendawan R. oryzae dilakukan dengan cara membentuk sporangium yang di dalamnya terdapat sporangiospora. Pada R. oryzae terdapat stolon, yaitu hifa yang terletak di antara dua kumpulan sporangiofor (tangkai sporangium). Reproduksi secara seksual dilakukan dengan fusi hifa (+) dan hifa (-) membentuk progamentangium. Progamentangium akan membentuk gametangium. Setelah terbentuk gamentangium, akan terjadi penyatuan plasma yang disebut plasmogami. Hasil peleburan plasma akan membentuk cigit yang kemudian tumbuh menjadi zigospora. 

Zigospora yang telah tumbuh akan melakukan penyatuan inti yang disebut kariogami dan akhirnya berkembang menjadi sporangium kecambah. Di dalam sporangium kecambah setelah meiosis akan terbentuk spora (+) dan spora (-) yang masing-masing akan tumbuh menjadi hifa (+) dan hifa (-).

Anggota cendawan zygomycota lainnya diantaranya ialah Pilobolus yang hidup pada kotoran ternak Cunninghamella serta sebagai parasit pada pohon pinus, Choaneophora parasit pada tanaman Curcubitaceae, Glomus dan Gigaspora. Glomus dan Gigaspora ialah cendawan yang membentuk simbiosis mutualistik mikoriza dengan berbagai macam tanaman termasuk tanaman pertanian yang mempunyai nilai ekonomi penting. Oleh karena itu kedua cendawan tersebut digunakan sebagai pupuk hayati. 
  • Filum Ascomycota/Ascomycotiana
Anda pernah makan tape singkong atau tape ketan? Tape singkong atau tape ketan yang dibuat dari bahan dasar singkong atau beras ketan merupakan hasil fermentasi khamir Saccharomyces cerevisiae. Cendawan Ascomycota hidup sebagai saprotrof, simbiotik antagonistik, dan simbiotik mutualistik. Struktur somatik cendawan Ascomycota ada yang bersel satu misalnya Saccharomyces sp. yang disebut khamir, dan ada yang bersel banyak dengan hifa bersekat. Cendawan yang memiliki sel banyak yang bersekat ada yang membentuk tubuh buah mikroskopis misalnya Talaromyce, dan ada yang membentuk tubuh buah makroskopis misalnya Morchella dan Nectria. Morchella ialah cendawan pangan dari Ascomycota. Cendawan kelompok ini melakukan reproduksi secara aseksual degan cara membentuk konidium. Konidium ialah spora tunggal yang dihasilkan dalam kantung (sporangium). Selain itu, beberapa Ascomycota berkembang biak dengan tunas. Tunas terbentuk dari percabangan sel. Setelah semua bagian sel terbentuk, tunas melepaskan diri dari induknya. 

Reproduksi secara seksual dilakukan dengan membentuk askokarp. Prosesnya diawali dengan plasmogami antara elemen jantan (antheridium) dengan gametangium betina (askogonium). 

Setelah terjadi fertilisasi akan terbentuk askus yang mengandung inti diploid. Inti diploid pada askus muda akan mengalami meiosis membentuk 4 inti haploid yang setelahnya dapat mengalami proses mitosis berkali-kali. Inti tersebut akan diselubungi dinding dan berkembang menjadi askospora matang. Askus dapat dibentuk dalam suatu wadah yang disebut askokarp. Askospora yang matang akan keluar dari askus dan askokarp Saccharomyces (khamir) merupakan cendawan bersel satu yang tidak memiliki hifa dan 

tubuh buah makroskopis. Reproduksi khamir secara seksual dilakukan dengan cara persatuan dua sel yang akan membentuk askus menjadi askospora. Saccharomyces dimanfaatkan untuk membuat tape, bir dan roti. Dalam proses pembuatan bir, khamir akan mengubah karbohidrat menjadi glukosa. Kemudian mengubah glukosa tersebut menjadi alkohol. Apabila ditulis dengan rumus kimia, reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
Saccharomyces juga dimanfaatkan untuk mengembangkan adonan roti, misalnya kue apem atau roti tawar. Adonan yang sudah jadi tidak langsung diolah, tetapi dibiarkan beberapa saat. Hal ini berfungsi untuk memberikan kesempatan pada khamir untuk melakukan proses fermentasi yang menghasilkan gas CO2. Gas CO2 yang terperangkap dalam adonan membuat teksturnya menjadi berongga dan mengembang. Khamir juga digunakan dalam industri alkohol. Proses akhir untuk mendapatkan alkohol ialah dengan cara penyulingan. 
  • Filum Basidiomycota/Basidiomycotiana 
Pernahkah anda makan keripik jamur merang yang terkenal dari daerah Karawang atau jamur kancing yang berasal dari Dieng Wonosobo di Jawa Tengah? Keripik jamur merang ini dibuat dari bahan dasar jamur yang termasuk ke dalam filum Basidiomycota. Selain kripik, pernahkah anda memakan jamur tiram (Pleurotusostreatus), jamur merang (Volvariella volvaceae), jamur shiitake (Lentinula edodes), dan jamur kuping (Auricularia auricula). Jamur tersebut merupakan jamur pangan yang telah umum dibudidayakan. 

Selain digunakan sebagai jamur pangan, filum Basidiomycota juga ada yang dimanfaatkan untuk pengobatan, contohnya di alam ganoderma yang digunakan sebagai jamur obat, dapat juga bersifat parasit terutama pada tanaman kelapa sawit yang sulit dikendalikan.

Jamur tiram shitake dan jamur kuping ialah jamur kayu yang sering dijumpai tumbuh pada batang pohon yang sudah lapuk, sedangkan jamur merang tumbuh pada jerami padi.

Basidiomycota hidup sebagai saprotrof, simbiotik antagonistik dan simbiotik mutualistik pada tumbuhan. Basidiomycota umumnya membentuk tubuh buah makroskopis yang disebut basidiokarp. Dalam basidiokarp terdapat basidium yang menyangga spora yang disebut basidiospora.

Reproduksi seksual dimulai setelah terjadinya peleburan 2 miselium haploid atau 2 basidiospora yang serasi (n+n). Sel hifa haploid yang berinti 2 yang serasi disebut hifa haploid dikariotik. Hifa haploid dikariotik (n+n) terus tumbuh membentuk basidiokarp. Beberapa sel yang terdapat pada bagian fertil dari basidiokarp berkembang membentuk basidium muda yang kemudian melakukan kariogami menghasilkan inti diploid (2n). Setiap inti diploid mengalami meiosis menghasilkan 4 inti haploid yang kemudian berkembang menjadi basidiospora yang dibentuk di ujung basidium. Setiap basidium dewasa biasanya menyangga 4 basidiospora. Struktur yang menyangga basidiospora pada basidium disebut sterigma.

Pembuatan Medium Potato Dextrose Agar (PDA) secara sederhana

Pembuatan Medium Potato Dextrose Agar (PDA) secara  sederhana

1.   Tujuan         mampu membuat medium PDA dengan cara yang benar
2.  Alat dan bahan
     Alat:                                                                                                           

a.         Timbangan                  h. Pengaduk                               n. Labu erlenmeyer
b.        Baskom plastik            i. Hot plate                                 o. Pipet ukur
c.         Pisau                            j. Gelas ukur                              p. Inkubator
d.        Talenan                       k. Tabung reaksi/botol contoh
e.         Beaker glass                l. Cawan petri (petridish) 
f.          Saringan/kain             m. Autoclave saring

     Bahan:
a.     Kentang (kupas)          : 200 gram
b.     Dekstrose/glukose       : 20 gram
c.      Agar-agar (putih)        : 7 gram (1 bungkus)
d.     Aquades                      : 1 liter
e.     Kertas perkamen         : 2 lembar
f.       Kapas
g.     Karet/benang kasur

3.     Langkah Kerja:
a.         Kupas kentang secukupnya, cuci hingga bersih dan potong kecil-kecil hingga berbentuk dadu.
b.         Timbang potongan kentang sebanyak 200 gram.
c.          Masak dengan menggunakan air sebanyak 1 liter hingga cukup lunak, tetapi jangan terlalu masak/hancur, hingga diperoleh kaldu kentang yang berwarna kekuning-kuningan.
d.         Saring dengan menggunakan saringan/kain saring halus, jangan sampai hancuran kentang tercampur dalam kaldu kentang (larutan hasil penyaringan).
e.         Tambahkan tepung agar-agar dan dekstrose/glukose ke dalam kaldu kentang.
f.           Ukurlah jumlah larutan hasil saringan tersebut, dan tambahkan aquades sehingga diperoleh volume 1 liter.
g.         Didihkan kembali larutan tersebut hingga agar-agar dan dekstrose/glukose larut seluruhnya.
h.         Tuangkan medium tersebut ke dalam tabung reaksi sesuai kebutuhan, seperti terlihat pada tabel berikut:
                              Agar miring             4 ml                                        Tabung reaksi
                              Agar tusuk               6 ml                                        Tabung reaksi
                              Cawan tuang           12 ml                                      Tabung reaksi
                              (agar cawan)           100-200 ml                            Labu erlenmeyer

i.           Tutuplah tabung reaksi/erlenmeyer dengan menggunakan kapas dan kertas perkamen, kemudian diikat dengan menggunakan karet/benang kasur.
j.           Siapkan tabung reaksi berisi aquades sebanyak 9 ml sebanyak 10 buah yang ditutup dengan kapas dan kertas perkamen untuk tiap kelompok. 
k.         Sterilisasikan media ke dalam autoclave pada suhu 121oC, tekanan 15 psi selama 15-20 menit.
l.           Keluarkan semua bahan yang disterilisasi.
m.      Dinginkan dalam kondisi miring untuk tabung reaksi yang akan dibuat/dipersiapkan sebagai agar miring, dan kondisi tegak untuk agar tusuk hingga medium tersebut membeku.
n.         Untuk membuat medium dalam cawan petri, tabung yang berisi 12 ml medium dimasukkan ke dalam penangas air (waterbath) pada suhu 50oC + 5 menit. Tuangkan medium ke dalam cawan petri steril secara aseptik hingga merata ke seluruh permukaan cawan dan biarkan hingga dingin dan membeku.
o.         Simpan dalam lemari pendingin bila medium tersebut belum digunakan. 


Selanjutnya  lakukan pekerjaan berikut :

Siapkan dua buah medium agar miring/tegak/cawan ke dalam tabung reaksi yang Anda buat. Bukalah tutup/sumbat kapas dan kertas perkamen pada salah satu medium dalam tabung reaksi dan biarkan minimal 10 menit pada beberapa tempat yang berbeda pada masing-masing kelompok, kemudian tutuplah kembali seperti semula. Berilah tanda pada tabung reaksi tersebut untuk membedakan dengan medium agar lain yang  tidak dibuat. Simpan medium tersebut ke dalam inkubator pada suhu 30oC selama 2-3 hari. Amati dan gambar serta bahas apa yang terjadi dengan medium tersebut bersama kelompok Anda.