Mikroskop

Mikroskop

Mikroskop (bahasa Yunani: micros = kecil dan scopein = melihat) adalah sebuah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk dilihat secara kasat mata. Mikroskop merupakan alat bantu yang dapat ditemukan hampir diseluruh laboratorium untuk dapat mengamati organisme berukuran kecil (mikroskopis). Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini disebut mikroskopi, dan katamikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah terlihat oleh mata.

mikroskop cahaya dan bagian-bagiannya
nikroskop elektron dan bagian-bagiannya


Table 1. Bagian-Bagian Mikroskop dan Fungsinya
BAGIAN
MIKROSKOP OPTIK
BAGIAN
MIKROSKOP MEKANIK
FUNGSI
Lensa okuler

Lensa yang berhubungan dengan mata langsung, pengintai atau pengamat yang berfungsi untuk memperbesar bayangan objek. Ada 4 buah lensa,yaitu dengan perbesaran
5 x, 10 x, 12,5 x dan 15 x
Lensa objektif

Lensa yang berada di dekat objek/benda berfungsi untuk memperbesar bayangan benda. Susunan lensa biasanya terdiri atas 3 atau 4 buah dengan perbesaran masing-masing  10 x, 40 x, 45 x dan 100 x
Diafragma

Untuk mengatur intensitas cahaya yang masuk ke lensa objektif

BAGIAN
MIKROSKOP OPTIK
BAGIAN
MIKROSKOP MEKANIK
FUNGSI
Cermin ada dua, yaitu cermin datar dan cekung

Cermin berfungsi untuk mengarahkan cahaya pada objek. Cermin datar digunakan ketika cahaya yang dibutuhkan terpenuhi, sedangkan cermin cekung digunakan untuk mengumpulkan cahaya

Tabung
Mikroskop
(Tubus)
Untuk menghubungkan lensa okuler dan lensa objektif

Meja sediaan
(meja preparat)
Sebagai tempat meletakkan objek atau preparat yang diamati. Bagian tengah meja terdapat lubang untuk melewatkan sinar.

Klip (penjepit objek)
Untuk menjepit preparat agar kedudukannya tidak bergeser ketika sedang diamati.

Lengan mikroskop
Untuk pegangan pada saat memindahkan atau membawa mikroskop

Pemutar halus (mikrometer)
Untuk menggerakkan
(menjauhkan/mendekatkan) lensa objektif terhadap preparat secara pelan/halus

Pemutar kasar (makrometer)
Untuk menggerakkan tubus ke atas dan ke bawah secara cepat
Kondensor

Untuk mengumpulkan cahaya yang masuk, alat ini dapat diputar dan dinaik-turunkan

Sekrup (engsel inklinasi)
Untuk mengatur sudut atau tegaknya mikroskop

Kaki mikroskop
Untuk menyangga atau menopang mikroskop

Cara menggunakan mikroskop
Cara menggunakan mikroskop bagian 1

Cara menggunakan mikroskop bagian 2

Keterangan  Gambar Menggunakan Mikroskop :
a.         Ambil mikroskop dari kotak penyimpanannya,  tangan kanan memegang bagian lengan mikroskop dan tangan kiri memegang alas mikroskop. Kemudian mikroskop diletakkan di tempat yang datar, kering, dan memiliki cahaya yang cukup.
b.         Pasang lensa okuler dengan lensa yang memiliki ukuran perbesaran sedang kemudian putar revolver sehingga lensa objektif dengan perbesaran lemah berada pada posisi satu poros dengan lensa okuler yang ditandai bunyi ”klik”pada revolver.
c.          Cahaya tampak terang berbentuk bulat (lapang pandang) seperti yang terlihat  pada gambar, dapat diperoleh dengan cara berikut:
•     Mengatur diafragma untuk mendapatkan cahaya yang terang
•     Mengatur cermin untuk mendapatkan cahaya yang akan dipantulkan ke  diafragma sesuai kondisi ruangan. Pengaturan dilakukan dengan cara melihat melalui lensa okuler (apakah lapang pandang sudah terang/jelas)
Catatan: beberapa mikroskop telah dilengkapi lampu sehingga tidak perlu mencari cahaya, cukup mengatur posisi diafragma yang sesuai dengan kebutuhan cahaya terang dan lurus dengan lensa okuler dan objektif
d.         Siapkan preparat yang akan diamati, lalu letakkan di meja. Atur agar bagian yang akan diamati tepat di tengah lubang meja preparat kemudian, jepit preparat dengan penjepit objek.
e.         Atur fokus untuk menperjelas gambar objek dengan cara:
•        Putar pemutar kasar (makrometer) secara perlahan sambil dilihat dari lensa okuler. Pemutaran dengan makrometer dilakukan sampai lensa objektif berada pada posisi terdekat dengan meja preparat.
Catatan: Jangan memutar makrometer secara paksa karena akan menekan preparat dan menyebabkan peparat rusak/pecah/patah.
•        Lanjutkan dengan memutar pemutar halus (mikrometer) untuk memperjelas bayangan objek.
•        Jika letak preparat belum tepat, kaca objek dapat digeser dengan lengan yang berhubungan dengan penjepit. Jika tidak tersedia, preparat dapat digeser secara langsung.
f.           Setelah preparat terlihat, untuk memperoleh perbesaran kuat gantilah lensa objektif dengan ukuran dari 10 x, 40 x atau 100 x dengan cara memutar revolver sampai berbunyi klik. Usahakan agar posisi preparat tidak bergeser. Jika hal ini terjadi, anda harus mengulangi dari awal.
g.         Setelah selesai menggunakan mikroskop, bersihkan mikroskop dan simpan pada tempat penyimpanan. 

jamur (fungi/cendawan) dan khamir

jamur (fungi/cendawan) dan khamir 

Fungi dalam bahasa Indonesia disebut cendawan. Ciri-ciri cendawan secara umum ialah makhluk hidup eukariotik, heterotrofik (tidak memiliki klorofil), memperoleh nutrisi melalui absorbsi dan energi simpanannya berupa glikogen. 

Cendawan mempunyai struktur somatik bersel satu atau banyak (multi seluler), kebanyakan berupa hifa dengan komponen utama dinding selnya ialah zat kitin, serta berkembang biak secara seksual dan aseksual dengan membentuk spora. 

Jamur (mushroom) ialah cendawan yang tubuh buahnya berukuran besar dan sebaliknya kapang (moulds) ialah cendawan yang berukuran renik. Khamir (yeast) ialah cendawan bersel tunggal. Cendawan bukanlah tumbuhan atau hewan. Cendawan tidak memiliki klorofil seperti tumbuhan sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis dan menyimpan karbohidratnya dalam bentuk glikogen bukan pati seperti pada tumbuhan. Cendawan tidak menelan dan mengunyah makanan seperti pada hewan, melainkan merombak makanannya di luar tubuh secara enzimatik dan diserap melalui hifa. 

Cendawan termasuk makhluk hidup eukariotik karena sudah memiliki inti sel yang terbungkus membran. Hidupnya bersifat heterotrof dengan menggunakan bahan organik yang sudah tersedia. Bahan organik yang digunakan dapat berupa bahan organik mati (saprotrof) atau bahan organik hidup (simbiosis). 

Cendawan yang melakukan simbioisis antagonistik dapat menyebabkan penyakit parasitik yang merugikan makhluk hidup inangnya. Sebaliknya, cendawan yang membentuk simbiosis mutualistik menguntungkan baik inang maupun cendawannya itu sendiri. Inang untuk cendawan ialah tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme termasuk cendawan. 

Struktur somatik cendawan multi seluler tersusun atas benang-benang yang disebut hifa. Hifa merupakan tabung-tabung kecil berisi sitoplasma dan nukleus. Dinding sel hifa umunya tersusun atas kitin. 

Kumpulan hifa akan membentuk jalinan yang disebut miselium. Beberapa jenis cendawan memiliki hifa   dengan sekat-sekat melintang yang dinamakan septa. Hifa yang memiliki sekat dinamakan hifa bersekat atau bersepta. Adapun hifa yang tidak memiliki sekat dinamakan asepta atau senositik Hifa senositik memiliki banyak inti. Pada cendawan yang hidup sebagai parasit terdapat hifa yang mengalami modifikasi menjadi haustoria. Haustoria adalah hifa yang berfungsi sebagai organ penyerap makanan atau menempel pada inang. Selain menyerap makanan, hifa dapat berkembang membentuk struktur reproduksi. 

Cendawan dapat berproduksi secara aseksual dan seksual dengan membentuk spora. Terdapat bermacam-macam spora aseksual yang dibentuk oleh cendawan, antara lain ialah konidium (jamak: konidia), sporangiospora (spora) dan klamidospora. 

Pembentukan spora seksual melibatkan proses perkawinan, kariogami dan meiosis. Ciri-ciri dari spora  seksual digunakan dalam pengelompokan cendawan ke tingkat filum. 

Berdasarkan perkembangan sistematika cendawan terkini yang menggunakan ciri-ciri seperti evolusi, ultrastruktur, biokimia dan molekuler untuk kriteria pembentukan takson maka kingdom (dunia) fungi ditata ulang. Cendawan yang dahulunya menempati satu kingdom yaitu fungi sekarang terpisah menjadi 3 kingdom. Ketiga kingdom ini ialah Chromista, Protoctista dan Fungi. 

Kingdom chromista disebut cendawan semu atau pseudofungi, kingdom protoctista disebut cendawan   protozoa dan kingdom fungi disebut cendawan sejati atau eufungi. 

Berdasarkan ciri reproduksi sebagai pembeda utama, kingdom chromista atau cendawan semu dan kingdom fungi atau cendawan sejati dibagi dalam beberapa filum. Kingdom chromista terdiri dari 2 filum yaitu Hyphochytridiomycota dan Oomycota. Cendawan sejati terdiri atas 5 filum yaitu Chytridiomycota, Zygomycota, Ascomycota, Basidiomycota dan Deuteromycota. Penjelasan masing-masing adalah sebagai berikut: 

1) Kingdom Chromista (Cendawan semu) Filum Oomycota 

Oomycota atau cendawan air dikatakan sebagai cendawan yang memiliki telur. Oomycota merupakan cendawan yang tersusun atas hifa bercabang yang tidak bersekat. Polisakarida penyusun utama dinding selnya ialah selulosa, bukan kitin seperi pada cendawan sejati. 

Oomycota berproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual dilakukan dengan cara pembentukan zoospore berflagel 2 di dalam zoosporangium pada ujung hifa. Zoospora akan tumbuh membentuk hifa-hifa baru. Sementara itu, reproduksi seksual dilakukan dengan cara peleburan sel telur haploid dengan inti sel dari anteridium. Proses peleburan sel telur dan anteridium menghasilkan oospora yang diploid. Setelah mengalami masa dorman, oospora berkecambah membentuk zooosporangium yang menghasilkan zoospora diploid. Selanjutnya zoospora akan tumbuh  menjadi hifa baru yang diploid sebagai parasit pada tanaman karet, Phytophthora infestans menyebabkan penyakit karat putih pada tanaman kentang dan Phytophthora nicotinae menyerang tanaman tembakau. 

Anggota oomycota lainnya yang bersifat parasit pada tanaman ialah Plasmopara viticola menyebabkan penyakit pada tanaman anggur dan Phythium sebagai penyebab penyakit lapuk berbulu atau rebah semai. 

2) Kingdom Fungi (Cendawan sejati) 

Kelompok jamur (fungi), merupakan kelompok makhluk hidup yang memperoleh makanan dengan cara menguraikan sisa makhluk hidup lain. 

Tidak berklorofil, berspora, tidak mempunyai akar, batang, dan daun. Jamur hidupnya di tempat yang lembab, bersifat saprofit (organisme yang hidup dan makan dari bahan organik yang sudah mati atau yang sudah busuk) dan parasit (organisme yang hidup dan mengisap makanan dari organisme lain yang ditempelinya). Tubuh jamur terdiri atas benang-benang halus yang disebut hifa. Hifa saling bersambungan membentuk miselium. Pada umumnya, jamur berkembang biak dengan spora yang dihasilkan oleh sporangium. Contoh jamur: jamur roti, ragi tape, jamur tiram putih, dan jamur kayu.

Jamur dibagi menjadi 6 divisi, yaitu Myxomycotina (jamur lendir), Oomycotina, Zygomycotina, Ascomycotina, Basidiomycotina, dan Deuteromycotina. 
  • Filum Chytridiomycota 
Cendawan ini merupakan cendawan sejati yang paling sederhana dan sering disebut kitrid. Reproduksi aseksualnya dilakukan dengan cara membentuk zoospora berflagela tunggal berbentuk whiplash. Reproduksi seksual dilakukan dengan membentuk spora rehat. Filum ini merupakan nenek moyang dari cendawan sejati lainnya. Sebagian kitrid hidup di air tawar, air laut dan lingkungan yang
lembab. Salah satu kitrid yang bersifat parasit pada tumbuhan ialah genus Synchytrium. Synchytrium endobiotricum dapat menyebabkan penyakit pada tanaman kentang. 
  • Filum Zygomycota / Zygomycotiana 
Cendawan anggota filum Zygomycota banyak yang mempunyai nilai ekonomi penting. Cendawan ini ada yang digunakan untuk produksi makanan, industri asam organik dan bersifat parasitik pada tanaman. Zygomycota yang digunakan untuk produksi makanan dan umum dikenal ialah Rhizopus oryzae atau kapang tempe. Ciri-ciri R. oryzae secara umum, antara lain ialah hifa tidak bersekat (senositik), hidup sebagai saprotrof, yaitu dengan menguraikan senyawa organik. 

Reproduksi aseksual cendawan R. oryzae dilakukan dengan cara membentuk sporangium yang di dalamnya terdapat sporangiospora. Pada R. oryzae terdapat stolon, yaitu hifa yang terletak di antara dua kumpulan sporangiofor (tangkai sporangium). Reproduksi secara seksual dilakukan dengan fusi hifa (+) dan hifa (-) membentuk progamentangium. Progamentangium akan membentuk gametangium. Setelah terbentuk gamentangium, akan terjadi penyatuan plasma yang disebut plasmogami. Hasil peleburan plasma akan membentuk cigit yang kemudian tumbuh menjadi zigospora. 

Zigospora yang telah tumbuh akan melakukan penyatuan inti yang disebut kariogami dan akhirnya berkembang menjadi sporangium kecambah. Di dalam sporangium kecambah setelah meiosis akan terbentuk spora (+) dan spora (-) yang masing-masing akan tumbuh menjadi hifa (+) dan hifa (-).

Anggota cendawan zygomycota lainnya diantaranya ialah Pilobolus yang hidup pada kotoran ternak Cunninghamella serta sebagai parasit pada pohon pinus, Choaneophora parasit pada tanaman Curcubitaceae, Glomus dan Gigaspora. Glomus dan Gigaspora ialah cendawan yang membentuk simbiosis mutualistik mikoriza dengan berbagai macam tanaman termasuk tanaman pertanian yang mempunyai nilai ekonomi penting. Oleh karena itu kedua cendawan tersebut digunakan sebagai pupuk hayati. 
  • Filum Ascomycota/Ascomycotiana
Anda pernah makan tape singkong atau tape ketan? Tape singkong atau tape ketan yang dibuat dari bahan dasar singkong atau beras ketan merupakan hasil fermentasi khamir Saccharomyces cerevisiae. Cendawan Ascomycota hidup sebagai saprotrof, simbiotik antagonistik, dan simbiotik mutualistik. Struktur somatik cendawan Ascomycota ada yang bersel satu misalnya Saccharomyces sp. yang disebut khamir, dan ada yang bersel banyak dengan hifa bersekat. Cendawan yang memiliki sel banyak yang bersekat ada yang membentuk tubuh buah mikroskopis misalnya Talaromyce, dan ada yang membentuk tubuh buah makroskopis misalnya Morchella dan Nectria. Morchella ialah cendawan pangan dari Ascomycota. Cendawan kelompok ini melakukan reproduksi secara aseksual degan cara membentuk konidium. Konidium ialah spora tunggal yang dihasilkan dalam kantung (sporangium). Selain itu, beberapa Ascomycota berkembang biak dengan tunas. Tunas terbentuk dari percabangan sel. Setelah semua bagian sel terbentuk, tunas melepaskan diri dari induknya. 

Reproduksi secara seksual dilakukan dengan membentuk askokarp. Prosesnya diawali dengan plasmogami antara elemen jantan (antheridium) dengan gametangium betina (askogonium). 

Setelah terjadi fertilisasi akan terbentuk askus yang mengandung inti diploid. Inti diploid pada askus muda akan mengalami meiosis membentuk 4 inti haploid yang setelahnya dapat mengalami proses mitosis berkali-kali. Inti tersebut akan diselubungi dinding dan berkembang menjadi askospora matang. Askus dapat dibentuk dalam suatu wadah yang disebut askokarp. Askospora yang matang akan keluar dari askus dan askokarp Saccharomyces (khamir) merupakan cendawan bersel satu yang tidak memiliki hifa dan 

tubuh buah makroskopis. Reproduksi khamir secara seksual dilakukan dengan cara persatuan dua sel yang akan membentuk askus menjadi askospora. Saccharomyces dimanfaatkan untuk membuat tape, bir dan roti. Dalam proses pembuatan bir, khamir akan mengubah karbohidrat menjadi glukosa. Kemudian mengubah glukosa tersebut menjadi alkohol. Apabila ditulis dengan rumus kimia, reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
Saccharomyces juga dimanfaatkan untuk mengembangkan adonan roti, misalnya kue apem atau roti tawar. Adonan yang sudah jadi tidak langsung diolah, tetapi dibiarkan beberapa saat. Hal ini berfungsi untuk memberikan kesempatan pada khamir untuk melakukan proses fermentasi yang menghasilkan gas CO2. Gas CO2 yang terperangkap dalam adonan membuat teksturnya menjadi berongga dan mengembang. Khamir juga digunakan dalam industri alkohol. Proses akhir untuk mendapatkan alkohol ialah dengan cara penyulingan. 
  • Filum Basidiomycota/Basidiomycotiana 
Pernahkah anda makan keripik jamur merang yang terkenal dari daerah Karawang atau jamur kancing yang berasal dari Dieng Wonosobo di Jawa Tengah? Keripik jamur merang ini dibuat dari bahan dasar jamur yang termasuk ke dalam filum Basidiomycota. Selain kripik, pernahkah anda memakan jamur tiram (Pleurotusostreatus), jamur merang (Volvariella volvaceae), jamur shiitake (Lentinula edodes), dan jamur kuping (Auricularia auricula). Jamur tersebut merupakan jamur pangan yang telah umum dibudidayakan. 

Selain digunakan sebagai jamur pangan, filum Basidiomycota juga ada yang dimanfaatkan untuk pengobatan, contohnya di alam ganoderma yang digunakan sebagai jamur obat, dapat juga bersifat parasit terutama pada tanaman kelapa sawit yang sulit dikendalikan.

Jamur tiram shitake dan jamur kuping ialah jamur kayu yang sering dijumpai tumbuh pada batang pohon yang sudah lapuk, sedangkan jamur merang tumbuh pada jerami padi.

Basidiomycota hidup sebagai saprotrof, simbiotik antagonistik dan simbiotik mutualistik pada tumbuhan. Basidiomycota umumnya membentuk tubuh buah makroskopis yang disebut basidiokarp. Dalam basidiokarp terdapat basidium yang menyangga spora yang disebut basidiospora.

Reproduksi seksual dimulai setelah terjadinya peleburan 2 miselium haploid atau 2 basidiospora yang serasi (n+n). Sel hifa haploid yang berinti 2 yang serasi disebut hifa haploid dikariotik. Hifa haploid dikariotik (n+n) terus tumbuh membentuk basidiokarp. Beberapa sel yang terdapat pada bagian fertil dari basidiokarp berkembang membentuk basidium muda yang kemudian melakukan kariogami menghasilkan inti diploid (2n). Setiap inti diploid mengalami meiosis menghasilkan 4 inti haploid yang kemudian berkembang menjadi basidiospora yang dibentuk di ujung basidium. Setiap basidium dewasa biasanya menyangga 4 basidiospora. Struktur yang menyangga basidiospora pada basidium disebut sterigma.

Pembuatan Medium Potato Dextrose Agar (PDA) secara sederhana

Pembuatan Medium Potato Dextrose Agar (PDA) secara  sederhana

1.   Tujuan         : mampu membuat medium PDA dengan cara yang benar
2.  Alat dan bahan
     Alat:                                                                                                           

a.         Timbangan                  h. Pengaduk                               n. Labu erlenmeyer
b.        Baskom plastik            i. Hot plate                                 o. Pipet ukur
c.         Pisau                            j. Gelas ukur                              p. Inkubator
d.        Talenan                       k. Tabung reaksi/botol contoh
e.         Beaker glass                l. Cawan petri (petridish) 
f.          Saringan/kain             m. Autoclave saring

     Bahan:
a.     Kentang (kupas)          : 200 gram
b.     Dekstrose/glukose       : 20 gram
c.      Agar-agar (putih)        : 7 gram (1 bungkus)
d.     Aquades                      : 1 liter
e.     Kertas perkamen         : 2 lembar
f.       Kapas
g.     Karet/benang kasur

3.     Langkah Kerja:
a.         Kupas kentang secukupnya, cuci hingga bersih dan potong kecil-kecil hingga berbentuk dadu.
b.         Timbang potongan kentang sebanyak 200 gram.
c.          Masak dengan menggunakan air sebanyak 1 liter hingga cukup lunak, tetapi jangan terlalu masak/hancur, hingga diperoleh kaldu kentang yang berwarna kekuning-kuningan.
d.         Saring dengan menggunakan saringan/kain saring halus, jangan sampai hancuran kentang tercampur dalam kaldu kentang (larutan hasil penyaringan).
e.         Tambahkan tepung agar-agar dan dekstrose/glukose ke dalam kaldu kentang.
f.           Ukurlah jumlah larutan hasil saringan tersebut, dan tambahkan aquades sehingga diperoleh volume 1 liter.
g.         Didihkan kembali larutan tersebut hingga agar-agar dan dekstrose/glukose larut seluruhnya.
h.         Tuangkan medium tersebut ke dalam tabung reaksi sesuai kebutuhan, seperti terlihat pada tabel berikut:
                              Agar miring             4 ml                                        Tabung reaksi
                              Agar tusuk               6 ml                                        Tabung reaksi
                              Cawan tuang           12 ml                                      Tabung reaksi
                              (agar cawan)           100-200 ml                            Labu erlenmeyer

i.           Tutuplah tabung reaksi/erlenmeyer dengan menggunakan kapas dan kertas perkamen, kemudian diikat dengan menggunakan karet/benang kasur.
j.           Siapkan tabung reaksi berisi aquades sebanyak 9 ml sebanyak 10 buah yang ditutup dengan kapas dan kertas perkamen untuk tiap kelompok. 
k.         Sterilisasikan media ke dalam autoclave pada suhu 121oC, tekanan 15 psi selama 15-20 menit.
l.           Keluarkan semua bahan yang disterilisasi.
m.      Dinginkan dalam kondisi miring untuk tabung reaksi yang akan dibuat/dipersiapkan sebagai agar miring, dan kondisi tegak untuk agar tusuk hingga medium tersebut membeku.
n.         Untuk membuat medium dalam cawan petri, tabung yang berisi 12 ml medium dimasukkan ke dalam penangas air (waterbath) pada suhu 50oC + 5 menit. Tuangkan medium ke dalam cawan petri steril secara aseptik hingga merata ke seluruh permukaan cawan dan biarkan hingga dingin dan membeku.
o.         Simpan dalam lemari pendingin bila medium tersebut belum digunakan. 


Selanjutnya  lakukan pekerjaan berikut :

Siapkan dua buah medium agar miring/tegak/cawan ke dalam tabung reaksi yang Anda buat. Bukalah tutup/sumbat kapas dan kertas perkamen pada salah satu medium dalam tabung reaksi dan biarkan minimal 10 menit pada beberapa tempat yang berbeda pada masing-masing kelompok, kemudian tutuplah kembali seperti semula. Berilah tanda pada tabung reaksi tersebut untuk membedakan dengan medium agar lain yang  tidak dibuat. Simpan medium tersebut ke dalam inkubator pada suhu 30oC selama 2-3 hari. Amati dan gambar serta bahas apa yang terjadi dengan medium tersebut bersama kelompok Anda. 

Medium Pertumbuhan Mikroorganisme

Medium Pertumbuhan Mikroorganisme

a.   Pengertian dan Fungsi Media
Dasar makanan yang paling baik bagi pembiakkan bakteri ialah medium yang mengandung zat–zat organik seperti rebusan daging, sayur– sayuran, sisa–sisa makanan atau ramuan–ramuan yang dibuat oleh manusia. Medium yang banyak digunakan dalam pekerjaan rutin di laboratorium ialah kaldu cair dan kaldu agar. Medium ini tersusun dari : kaldu bubuk 3 gram, pepton 5 gram, air suling 1000 mL (Dwidjoseputro,2005).
Media adalah suatu substrat untuk menumbuhkan bakteri yang menjadi padat dan tetap tembus pandang pada suhu inkubasi (Pelczaretal, 1986). Medium adalah suatu bahan nutrisi tempat menubuhkan bakteri di laboratorium (Tortora, 2007).
 
b. Macam – Macam Media
Menurut Dwidjoseputro (1964), media dibedakan menjadi :
1.    Media cair misalnya kaldu
2.    Media kental (padat) menggunakan kentang yang dipotong
3.    Media yang diperkaya
4.    Media yang sintetik berupa ramu–ramuan zat anorganik
5.    Media kering berupa serbuk kering yang dilarutkan dalam air

Menurut Pelczaretal (1986) media dibedakan menjadi:
1.    Media yang diperkaya komponennya yaitu lumpur, ekstra serum dari tanaman atau hewan
2.    Media selektif  yaitu bagian kimiawi secara spesifik untuk  dapat tumbuh bakteri tanpa adanya halangan dari apapun 
3.    Media yang berbeda yaitu menyatukan reagen atau zat kimia di media untuk menghasilkan pertumbuhan yang baik setelah diinkubasi dan diinokulasi dengan mengizinkan 2 pertumbuhan bakteri yang berbeda.

Menurut Hadioetomo (2010), media dibedakan menjadi 2 menurut komposisi kimiawinya yaitu medium sintetik dan medium non sintetik atau kompleks.
Medium sintetik dibuat dari bahan kimia yang kemurnian tinggi dan ditentukan dengan tepat, sedangkan medium non-sintetik tidak diketahui dengan pasti.
Media NA, PDA Beserta Komposisinya
Menurut Pelczar et. al. (1986),  NA (Nutrient Agar) adalah padatan yang dimaksudan untuk membuat media menjadi padat.
Komposisi NA :
a.         Ekstra Daging Sapi 3 gram.
b.         Pepton 5 gram
c.          Agar 15 gram
d.         Air 1000 ml. Menurut Fathir (2009), 

Komposisi PDA: 
a.           400 gr kentang ( kupas kulitnya )
b.           15 gr dektrosa
c.            15 gr agar- agar
d.           1000 ml air (suling atau sumur )

Media NA (Nutrient Agar) digunakan untuk budidaya bakteri dan untuk pencegahan organisme dalam air, limbah, kotoran dan lainnya. 
Komposisi: Beef extract, peptone, agar dan aquadest (Ruly, 2009).
Pemberdayaan mikoorganisme tidak dapat dilakukan secara sembarangan, karena dapat berakibat sangat merugikan. Oleh karena itu dalam pemberdayaan mikroorganisme tersebut harus dapat mengidentifikasi secara pasti jenis mikroorganisme yang akan digunakan. Untuk melakukan proses identifikasi harus dilakukan penyiapan medium yang meliputi kegiatan pembuatan medium dan  sterilisasi terhadap bahan dan peralatan terkait.

c. Jenis-jenis medium
Medium adalah bahan yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme di atas atau di dalamnya. Meskipun mikroorganisme mempunyai persyaratan nutrien yang beragam, namun secara umum mereka mempunyai kebutuhan dasar yang sama yaitu meliputi air, karbon, energi, mineral, dan faktor tumbuh. Pengetahuan nutrisi untuk pertumbuhan mikroorganisme sangat diperlukan di dalam mengkultivasi, mengisolasi dan mengidentifikasi mikroorganisme. Mikroorganisme memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda di dalam persyaratan pertumbuhannya. Karakteristik persyaratan pertumbuhan mikroorganisme inilah yang menyebabkan bermacam-macamnya media penunjang pertumbuhan mikroorganisme. Namun demikian, mikroorganisme sebagai makhluk hidup secara umum mempunyai kebutuhan dasar yang sama, yaitu air, karbon, energi, mineral, dan faktor tumbuh. 

Air merupakan wahana masuknya nutrien ke dalam sel dan keluarnya sekresi ataupun ekskresi dari dalam sel. Air juga diperlukan untuk berlangsungnya reaksi-reaksi enzimatik di dalam sel. Air yang digunakan dalam pembuatan medium sebaiknya menggunakan air suling untuk menghindari banyaknya kandungan kadar ion kalsium dan magnesium yang dapat menyebabkan terjadinya endapan fosfat pada medium yang mengandung pepton dan ekstrak daging. 
Anonim  (2006) menyatakan klasifikasi media pertumbuhan mikrobila seperti pada tabel berikut:

Klasifikasi media pertumbuhan mikrobia
KLASIFIKASI
NAMA/SEBUTAN
CONTOH
Sumber Nutrien
Alamiah
Susu, kaldu
Buatan/Artifisial
Campuran zat kimia
Keadaan Fisik
Padat-Ireversibel
Serum darah terkoagulasi
Padat-Reversibel
Agar nutrien
Setengah padat
Agar lunak
Cair
Kaldu nutrien
Komponen Kimiawi penyusun
Kompleks (komposisi “unknown”)
Agar nutrien
Kimiawi-Sintetik
(komposisi “known”)
Amonium sulfat, medium garam, glukosa.
Persyaratan nutrisi bakteri
Enrichment Media (media diperkaya)
Kaldu Infusi Jantung
Differential media (Media diferensial)
Agar Eosin-biru metilen
Selected Media (media terpilih)
Agar deoksikolat
Test Media (media uji)
Media uji Vit B12

Keterangan :
1.        Ireversibel = Sifat tidak dapat kembali lagi ke fase semula. Seperti darah yang telah berkoagulasi (menggumpal) tidak dapat lagi kembali menjadi darah cair. 
2.        Reversibel = Sifat yang dapat kembali ke fase semula setelah perubahannya. Seperti agar yang dapat memadat apabila didinginkan dan dapat mencair kembali apabila dipanaskan lagi.
3.        Enrichment Media = Media yang dapat menunjang pertumbuhan bakteri yang rewel yaitu bakteri yang memiliki persyaratan untuk tumbuh yang rumit. Bakteri ini tidak dapat tumbuh pada media biasa karena membutuhkan beberapa nutrisi pengaya yang dapat menyokong pertumbuhannya.
4.        Differential Media = Media yang digunakan untuk membedakan bentuk dan karakter koloni bakteri yang tumbuh. Beberapa bakteri dapat tumbuh di dalam media ini, tetapi hanya beberapa jenis saja yang mempunyai penampilan pertumbuhan yang khas. Media ini berguna untuk isolasi dan identifikasi bakteri.
5.        Selected Media = Media pertumbuhan yang terpilih dan khusus, maksudnya media ini dapat menghambat pertumbuhan tipe mikroorganisme lain namun membiarkan tipe mikroorganisme lain dapat tumbuh. Media ini sangat berguna untuk identifikasi.
6.        Test Media = Media yang digunakan untuk mengukur secara kuantitatif suatu vitamin maupun antibiotik dengan bantuan mikroorganisme.
7.        Berbagai contoh jenis media dan komposisi serta cara penyajiannya dapat dilihat pada lampiran yang terdapat pada bagian akhir modul ini.

d. Penyiapan Medium
Secara umum konsistensi medium dibuat berdasarkan kebutuhan. Medium dapat berbentuk cair, setengah padat dan padat. Medium cair (kaldu nutrien atau kaldu glukose dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti pembiakan organisme dalam jumlah besar, penelaahan fermentasi dan berbagai macam uji. Medium setengah padat digunakan untuk menguji ada tidaknya motilitas dan kemampuan fermentasi. Medium padat biasanya digunakan untuk mengamati penampilan atau morfologi koloni dan mengisolasi biakan murni. Untuk membuat medium padat, biasanya ditambahkan bahan pemadat (gelatin atau agar-agar) ke dalam medium kaldu (cair). Sedangkan untuk membuat medium setengah padat dilakukan dengan menambahkan  gelatin atau agar-agar dalam konsentrasi lebih kecil dibandingkan dapat pembuatan medium padat. 

Agar-agar merupakan bahan yang kandungan utamanya adalah galaktan, yaitu suatu kompleks karbohidrat yang diekstraksi dari alga marin genus Gelidium, namun sebagian besar mikroorganisme tidak dapat menggunakannya sebagai makanan sehingga agar-agar dapat berlaku semata-mata sebagai bahan pemadat. Agar-agar akan mencair bila dipanaskan pada suhu 100oC dan tetap berbentuk cair bila didinginkan sampai kurang lebih 43oC. Agar-agar dapat dicairkan kembali pada suhu 100oC, namun tidak dianjurkan untuk membiarkan medium agar menjadi padat lalu mencairkannya kembali lebih dari dua kali karena dapat memberikan hasil yang kurang baik. Air yang digunakan dalam pembuatan medium sebaiknya menggunakan air suling. Air merupakan wahana bagi masuknya nutrien ke dalam sel dan keluarnya sekresi maupun ekskresi dari dalam sel. Air juga diperlukan untuk berlangsungnya reaksi-reaksi enzimatik di dalam sel. 

Penyiapan media komersial dalam bentuk bubuk, seperti PCA (Plate Count Agar), NA (Nutrient Agar), TSA (Trypticase Soy Agar) dan lain lain, pada umumnya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Setiap komponen atau medium terhidrasi (bubuk) dilarutkan ke dalam aquades atau air suling pada volume yang tepat dan sesuai.
2.      pH media ditentukan dan disesuaikan dengan nilai optimum pertumbuhan mikroorganisme sebagaimana tertera pada kemasan media komersial.
3.      Dituang ke dalam media yang sesuai, seperti erlenmeyer atau tabung labu dan disumbat dengan penutup yang kuat. Jumlah medium dan wadah yang digunakan dapat dilihat pada tabel berikut:

Jumlah medium dan wadah yang digunakan
Medium
Jumlah
Wadah
Agar miring
Agar tusuk
Cawan tuang 
(agar cawan)
Kaldu
Kaldu dengan tabung fermentasi
4 ml
6 ml
12 ml
100-200 ml (8-16 cawan)
5-10 ml
5-7 ml
Tabung reaksi
Tabung reaksi
Tabung reaksi
Labu erlenmeyer
Tabung reaksi
Tabung reaksi

1.      Disterilisasi dengan suhu dan waktu yang memadai sesuai dengan yang tertera pada kemasan (umumnya pada suhu 121oC, tekanan 15 psi selama 15 menit).
2.      Setelah dikeluarkan dari sterilisator, letakkan tabung yang telah berisi medium sesuai dengan tujuannya. Untuk agar miring, tempatkan pada wadah atau bantalan sampai kemiringan yang diinginkan hingga menjadi padat. 

3.      Berikan identitas pada media tersebut agar tidak tertukar dengan media lainnya, karena secara umum warna dan kondisi media relatif sama meskipun komposisinya berbeda.